Selasa, 07 Desember 2010

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP


Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi, metode, atas prinsip pembelajaran, Istilah model pembeiajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :
1. Rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasii dan
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Istilah model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Contohnya pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembeiajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana keias yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyeiidikan oieh siswa.
Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengkiasifikasian berdasarkan tujuan adaiah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti label perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.
Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran, didalamnya rneliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.
Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. mMisalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan beiajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.
Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru. Pendidikan adaiah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan syarat perkembangan. Oleh karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adaiah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua tingkat perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adaiah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa upaya penyempurnaan atau perbaikan pendidikan pada semua tingkatan untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan periu terus-menerus dilakukan, diselaraskan dengan perkembangan kebutuhan, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Oleh karena itu dengan adanya modul Model Interaksi Pembelajaran akan sangat membantu dalam mewujudkan itu semua.

HAKEKAT PEMBELAJARAN DALAM MATEMATIKA


Hakekat pembelajaran dalam matematika dilandasi oleh proses pembelajaran yang bersifat :
a. Tidak memaksa siswa untuk dapat memahami suatu pokok materi tertentu, dan
b. Tidak menjejali teori-teori atau konsep tertentu kedalam otak/pikiran anak.
Pembelajaran matematika harus memiliki sifat pembiasaan diri siswa untuk berfikir logis, rasional dan sistematis untuk mencari, menyelidiki, memecahkan masalah dan menemukan ilmu pengetahuan. Pembelajaran harus Memberikan Keyakinan terhadap siswa, bukan pembelajaran yang memberikan ilmu pengetahuan secara verbalisme.
Dengan demikian siswa diajak untuk dapat :
a. Aktif secara logis (tidak keluar dari kaidah-kaidah matematika).
b. Pembelajaran penuh rasional (pembelajaran yang mengajak siswa menggunakan alasan-alasan yang sesuai dengan kaidah).
c. Pembelajaran yang sistematis (pembelajaran memenuhi algoritma/keteraturan yang jelas).
Pembelajaran matematika perlu dikemas dalam pembelajaran yang melibatkan aktifitas siswa dengan didasarkan pada matematika yang memiliki sifat :
a. Berpola pikir deduktif dan konsisten.
b. Memiliki objek dasar yang abstrak.
Dengan demikian pembelajaran matematika perlu dihantarkan mulai dari berpikir kongkrit, bukan menjelaskan rumus-rumus secara abstrak. Pembelajaran matematika perlu memunculkan aktivitas belajar melalui penyelidikan (Investigasi), pemecahan masalah (Problem solving) dan penemuan (Reinventation).
Adapun kemampuan yang mesti muncul dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan penalaran (Reasoning), Kemampuan untuk menkomunikasikan gagasan-gagasan dalam bentuk simbol-silbol atau model dalam matematika (Comunication), kemampuan untuk mengaitkan setiap gagasan atau konsep-konsep dengan konsep atau mata pelajaran lain (Conection), kemampuan pemecahan masalah (Problem Solving) dan kemampuan merepleksikan setiap gagasan yang dimiliki (Reflectation).
Penalaran (Reasoning) merupakan kemampuan fundamental yang sangat dibutuhkan siswa pada setiap jenjang dan tingkatan pembelajaran matematika. Pada dasarnya, penalaran itu dalam bentuk “jika A maka B”, meskipun tidak selamanya dinyatakan dalam bentuk teoritis seperti itu oleh sebagian besar siswa.
Selama mempelajari Matematika di kelas, aplikasi penalaran sering ditemukan meskipun tidak secara formal disebut sebagai belajar bernalar. Sejalan dengan contoh-contoh yang telah dikemukakan di atas, maka istilah penalaran (jalan pikiran atau Reasoning) merupakan proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan.
Aplikasi Penalaran telah digunakan para siswa selama proses pembelajaran matematika berlangsung dikelas. Bayangkan sekarang jika para siswa tidak belajar matematika, apa yang akan terjadi dengan keterampilan berpikir mereka ? Pola berpikir yang dikembangkan matematika seperti dijelaskan di atas memang membutuhkan dan melibatkan pemikiran kritis, sistematis, logis, dan kreatif. sehingga akan cepatkah mereka menarik kesimpulan dari beberapa fakta atau data yang mereka dapatkan ataupun mereka ketahui ?
Kita mengenal ada dua macam penalaran yaitu :
a. Induksi (penalaran induktif) dan
b. Deduksi (penalaran deduktif)
Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya.
Sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Namun demikian dalam pembelajaran konsep sering diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep matematika.
Kita, mulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati. Buatlah daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), kemudian pikirkan hasil baru yang diharapkan. Kemudian hasil ini kita buktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar secara induktif dan deduktif digunakan dan sama-sama berperan penting dalam matematika.
Dari cara kerja matematika tersebut diharapkan akan terbetuk sikap kritis, kreatif, jujur, dan komunikasi pada siswa.
Depdiknas menyatakan “Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif”. Namun demikian, dalam pembelajaran, pemahaman konsep sering diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi”. Sejalan dengan itu. George Polya menyatakan pentingnya penalaran (induktif) dalam pengembangan matematika.
Jika pada masa lalu, siswa memulai belajar matematika secara deduktif aksiomatis, hal ini sesungguhnya telah mengingkari proses bertumbuh dan berkembangnya matematika. Mengikut pada yang telah dilakukan pada matematikawan, matematika yang telah dipelajari para siswa disekolah sudah seharusnya mengikuti proses didapatkannya matematika tersebut. Karena itu, pada masa kini, dengan munculnya teori-teori belajar seperti belajar bermakna dari Ausubel, teori belajar dari Piaget serta Vigotsky (kontruktivisme sosial), para siswa dituntun ataupun difasilitasi untuk belajar sehingga dapat menemukan kembali (reinventation) atau mengkontruksi kembali (recontructation) pengetahuannya yang dikenal dengan kontekstual learning, matematika humanistik, ataupun matematika realistik.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grocery Coupons